reading ✎
← blog

Numpuk Buku Tapi Jarang Dibaca? Orang Jepang Punya Kata Buat Itu

Coba jujur: berapa buku di rak kamu yang masih plastikan? Atau yang udah dibuka sampe halaman 20, terus mangkrak sampe sekarang? Kalau kamu ngerasa bersalah tiap kali beli buku baru padahal tumpukan lama belum kesentuh, ternyata kamu ga sendirian — dan orang Jepang udah punya kata buat kebiasaan ini sejak lebih dari seratus tahun lalu.

Namanya tsundoku.

Asal Kata yang Ternyata Udah Lama Banget

Tsundoku (積ん読) gabungan dari dua kata: tsunde-oku — membiarkan sesuatu menumpuk — dan dokusho — membaca buku. Kalau digabung, artinya kira-kira: membeli buku, menumpuknya, dan ga pernah benar-benar membacanya.

Kata ini pertama muncul di era Meiji, sekitar tahun 1879, awalnya sebagai sindiran buat seorang guru yang punya banyak buku tapi ga pernah kelihatan membacanya — istilahnya waktu itu “tsundoku sensei”. Menariknya, meskipun lahir dari sindiran, kata ini ga pernah benar-benar punya konotasi negatif di budaya Jepang. Beda jauh sama istilah Barat yang mirip, “bibliomania” — yang justru sering dikaitkan sama obsesi mengoleksi buku secara berlebihan, bukan soal niat membaca.

Bedanya di situ: tsundoku bukan soal koleksi demi koleksi. Ada niat di baliknya. Buku itu dibeli karena memang mau dibaca — cuma belum sempat, atau belum waktunya.

Kenapa Kita Terus Beli Padahal Belum Selesai Baca

Ini bagian yang menarik dari sisi psikologi. Ternyata bukan soal kurang disiplin doang. Ada penjelasan yang lebih masuk akal: setiap kali beli buku baru, otak kita dapat semacam “hadiah” instan — perasaan senang dan optimis soal versi diri kita di masa depan yang bakal baca dan menyerap buku itu. Beli buku terasa kayak investasi ke diri sendiri yang lebih baik, terlepas dari apakah investasinya benar-benar dicairkan atau engga.

Masalahnya, perasaan puas itu udah kejadian di titik beli — bukan di titik baca. Jadi dorongan buat benar-benar membaca sering kalah sama dorongan buat beli buku berikutnya, yang ngasih hit kepuasan yang sama tapi jauh lebih instan.

Sudut Pandang Lain: Rak Buku Sebagai Peta, Bukan Daftar Utang

Penulis Nassim Nicholas Taleb punya istilah lain buat fenomena serupa: antilibrary. Dalam pandangannya, koleksi buku yang belum dibaca bukan tanda kegagalan, tapi justru pengingat aktif soal seberapa luas hal yang belum kamu tahu. Dia sering ngasih contoh Umberto Eco, penulis Italia yang punya koleksi sampai 30.000 buku — dan kebanyakan orang salah paham, ngira koleksi sebesar itu adalah bukti seberapa banyak yang Eco udah tahu. Padahal sebaliknya: itu justru cermin dari rasa ingin tahunya yang ga pernah berhenti.

Cara pandang ini membalik rasa bersalah jadi sesuatu yang lebih sehat. Rak buku yang penuh bukan daftar utang yang harus dilunasin satu-satu sebelum boleh beli lagi. Dia lebih kayak peta — nunjukin ke arah mana rasa penasaran kamu udah dan lagi jalan.

Tapi Tetap Ada Batasnya

Bukan berarti tsundoku jadi izin buat belanja buku tanpa batas dan lupa niat awalnya. Bedanya tsundoku sama sekadar numpuk barang ada di satu hal: apakah kamu masih punya niat jujur buat baca buku-buku itu, atau udah bergeser jadi sekadar kepuasan beli semata.

Kalau tumpukan buku bikin kamu makin susah nemuin yang mana yang mau dibaca duluan, atau bikin kamu ngerasa berat tiap kali liat raknya, mungkin itu tandanya perlu direm sebentar — bukan buat berhenti total, tapi buat mulai lebih sengaja: pilih satu-dua dari tumpukan itu buat benar-benar diselesaikan, sebelum nambah lagi.

Tsundoku, pada akhirnya, cuma sehat kalau dia masih jadi cerminan rasa ingin tahu — bukan pengganti dari rasa ingin tahu itu sendiri.

Mau mulai njinakin tumpukanmu? Coba Tsundoku Tamer — catat buku yang kamu punya, lihat tumpukanmu dikuliti, dan biarin roulette milihin buku mana yang harus dibaca duluan.


Bagian dari seri eksplorasi Play Productivity di wahyuteguh.com.

© 2026 wahyuteguh · home