reading ✎
← blog

Kita Satu Satunya Makhluk yang Selalu Mencari Petunjuk, Petunjuk apa?

Coba ingat-ingat: pernah ga kamu liat awan yang bentuknya “mirip” sesuatu? Atau denger lagu random di playlist yang liriknya kok “pas banget” sama apa yang lagi kamu alamin? Atau ketemu angka yang sama berkali-kali dalam sehari, terus mikir “ini pertanda apa ya”?

Kalau pernah, kamu ga aneh. Itu memang cara otak manusia kerja secara default.

Otak yang Ga Bisa Berhenti Mencocok-cocokkan

Ilmuwan punya nama buat kecenderungan ini: apophenia, atau yang dipopulerkan penulis sains Michael Shermer sebagai patternicity — kecenderungan menemukan pola yang bermakna di dalam data yang sebenarnya acak atau ga saling berhubungan. Istilah aslinya dicetuskan psikiater Jerman Klaus Conrad tahun 1958, awalnya buat menggambarkan gejala klinis. Tapi sekarang dipahami sebagai bagian normal — bahkan mendasar — dari cara kognisi manusia bekerja.

Kenapa otak kita begini? Ada penjelasan evolusioner yang masuk akal: bayangin nenek moyang kita denger suara gemerisik di semak-semak. Kalau dia nganggep itu predator padahal cuma angin, paling rugi cuma waspada beberapa detik yang ga perlu. Tapi kalau dia nganggep itu angin padahal beneran predator, taruhannya nyawa. Alam cenderung “milih” makhluk yang lebih gampang melihat pola — walau kadang salah — daripada yang terlalu santai dan telat sadar ada bahaya.

Ini yang bikin kita ngeliat wajah di awan, ngeliat makna di kebetulan, dan ngerasa dunia ini penuh sinyal yang “ngomong” ke kita. Bukan tanda kita berpikir irasional. Itu justru cara berpikir yang udah tertanam dalam sejak sangat lama — cara otak kita membuat dunia yang acak jadi terasa punya makna dan bisa diprediksi.

Kebiasaan yang Ternyata Udah Dilakukan Ribuan Tahun

Yang menarik, kecenderungan ini ga cuma soal awan dan kebetulan kecil sehari-hari. Sepanjang sejarah, di hampir semua kebudayaan, manusia punya versi mereka sendiri dari satu kebiasaan yang sama: membuka buku secara acak buat mencari petunjuk.

Praktik ini punya nama sendiri dalam studi budaya — bibliomancy atau stichomancy, dari kata Yunani yang berarti “buku” dan “ramalan” — dan jejaknya ada di mana-mana. Orang Romawi kuno punya tradisi sortes, membuka karya-karya besar seperti Aeneid karangan Virgil secara acak buat mencari jawaban atas pertanyaan hidup, sampai jadi tradisi tersendiri yang disebut sortes Virgilianae. Ada juga catatan soal Santo Fransiskus dari Assisi yang, dalam mencari petunjuk ilahi, membuka kitab Injil secara acak sebanyak tiga kali — dan tiap kali terbuka di bagian yang sama, tentang meninggalkan harta duniawi. Di sisi lain dunia, tradisi Tiongkok kuno mengembangkan I Ching, sistem pertanyaan-jawaban lewat pelemparan koin atau batang yarrow yang secara fungsi mirip: membiarkan keacakan “berbicara” lewat teks yang dianggap sarat makna.

Pola yang sama muncul berulang kali di budaya yang saling ga terhubung, di era yang berbeda-beda: manusia terus-menerus mencari cara buat membiarkan sesuatu yang lebih besar dari diri mereka — takdir, alam semesta, atau apapun namanya — “berbicara” lewat keacakan yang kita percaya sebenarnya ga acak-acak amat.

Kenapa Ini Bukan Sekadar Superstisi Kosong

Gampang buat langsung nge-judge praktik semacam ini sebagai sekadar takhayul. Tapi ada cara pandang lain yang lebih adil: kadang bukan soal apakah “pesan”-nya beneran datang dari luar diri kita, tapi soal apa yang terjadi di dalam diri kita begitu kita membaca sesuatu dengan niat mencari makna.

Ketika kamu membuka halaman secara acak dengan pertanyaan tertentu di kepala, otak kamu ga pasif menerima teksnya. Otak kamu aktif mencari koneksi antara apa yang kamu baca dan apa yang lagi kamu pikirkan. Proses ini bisa memicu refleksi yang jujur — bukan karena teksnya “meramal” masa depan, tapi karena proses mencari makna itu sendiri sering memaksa kita melihat situasi kita dari sudut yang belum kepikiran sebelumnya.

Ini mirip kenapa journaling, atau sekadar nulis pertanyaan sebelum tidur, sering bikin orang “ketemu” jawaban keesokan harinya — bukan karena ada sihir, tapi karena otak yang udah diarahkan buat mencari sesuatu, jadi lebih peka terhadap petunjuk yang sebenarnya udah ada di sekitarnya.

Tapi Tetap Perlu Hati-hati

Di sinilah letak jebakannya. Kecenderungan mencari pola yang begitu kuat ini bisa dengan mudah membuat kita membaca makna yang sebenarnya cuma kebetulan, lalu memperlakukannya seolah itu jawaban pasti. Bahaya terbesarnya bukan di prosesnya, tapi di seberapa besar kita menyerahkan keputusan penting sepenuhnya ke satu momen kebetulan — tanpa dibarengi pertimbangan yang matang, usaha nyata, atau nasihat dari orang yang lebih paham situasinya.

Pola yang kita temukan lewat cara-cara semacam ini paling baik diperlakukan sebagai bahan refleksi — pemicu buat mikir lebih dalam — bukan sebagai keputusan final yang menggantikan proses berpikir itu sendiri.

Yang Bisa Ditarik dari Sini

Manusia memang makhluk yang secara alami terus-menerus mencari pola dan makna — itu fitrah kognitif yang udah ada sejak evolusi, dan udah terwujud dalam berbagai bentuk kebiasaan di hampir semua kebudayaan sepanjang sejarah. Ini bukan kelemahan. Ini justru salah satu alasan kenapa manusia bisa membuat prediksi, menyusun cerita, dan menemukan makna di tengah dunia yang penuh ketidakpastian.

Tapi justru karena kecenderungan ini begitu kuat dan otomatis, yang paling jujur untuk dilakukan bukan berhenti mencari pola — tapi belajar membedakan mana yang beneran sinyal berharga buat direnungi, dan mana yang cuma kita paksakan biar terasa punya arti.

Mau nyoba refleksi dari keacakan yang udah dilakukan manusia selama ribuan tahun? Coba Surat Langit — terima satu ayat acak, tulis refleksinya, dan lepaskan pesanmu sebagai lampion ke langit.


Bagian dari seri eksplorasi Play Productivity di wahyuteguh.com.

© 2026 wahyuteguh · home